Berkebun Sengon Yuk

DUA TAHUN - Pohon Sengon ketika usia 2 tahun, tinggi hingga 7 meter, mudah di tanam, ringan perawatannya
Sengon sangat adaptif , cocok ditanam di hampir semua macam lahan. Yang terutama adalah lahan tidak tergenang air , dan pada saat penanaman bibit di lahan , minimal terkena hujan selama tiga bulan.Lebih bagus lagi jika daerah sekitar lahan terdapat sungai yang terus mengalir sepanjang tahun.
Lubang tanam berukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm. Pisahkan lapisan atas tahan / top soil di sisi kiri lubang tanam ( kira – kira tebal 5 cm dari permukaan ). Sisa galian diletakkan di sebelah kanan. Masukkan top soil / tanah lapisan atas ke dalam lubang. Masukkan bibit dalam polybag ke dalam lubang tanam , sobek polybagnya dan sisihkan. Masukkan 1 – 2 kaleng susu pupuk kandang terfermentasi ( ayam atau kambing lebih baik ), dan 100 gram pupuk NPK / Phonska. Tutup lubang dengan sisa tanah galian.
Jarak tanam ideal 3 x 3 meter. Jika ditanam 1,5 x 1,5 meter , untuk mencapai diameter 25 cm dibutuhkan waktu 8 – 9 tahun. Teoritisnya , dibutuhkan 1150 batang bibit per hektar.
Pada usia tanam 2 minggu – 1 bulan , lakukan pengontrolan terhadap gangguan serangga pemakan daun , semprot Decis jika ditemukan serangga pemakan daun. Bulan ke 2 dan ke – 5 lakukan penyiangan dan pemupukan dengan NPK / Phonska . Jika ditemukan serangga pemakan daun , lakukan penyemprotan dengan Decis lagi. Potong ranting – ranting percabangan. Hindarkan dari hewan ternak masuk yang bisa memakan daunnya atau menginjak / merobohkan. Hindarkan juga dari perambah yang memangkasi daun – daunnya untuk pakan ternak. Penyemprotan Decis/insektisida lain membuat ternak tidak suka memakan daunnya.
Pada akhir tahun pertama dan ke dua , gali lubang tanam berukuran sama di antara 4 pohon , isi dengan 0,3 m3 pupuk kandang dan 0,5 kg NPK. Siangi gulma yang mengganggu.
Mulai akhir tahun pertama sudah mulai boleh dilakukan tumpangsari dengan polong – polongan , misalkan kedelai dan kacang hijau.
Hitungan bisnisnya
Perbandingan sengon lokal biasa ( SL ) dengan unggul bersertifikat ( UB ),
dalam sudut pandang bisnisnya :
Contoh kasus ( angka keluaran di lapangan masih bisa bervariasi sedikit ) :
Penanaman luas 1 hektar, misalkan sama – sama dengan jarak ideal kurang lebih
3 meter x 3 meter , populasi per hektar idealnya kira – kira 1150 batang.
Biaya pemeliharaan dengan pemupukan & tenaga kerja dll selama 2 tahun pertama
Rp. 10.000/pohon.
Sengon Lokal ( SL )asumsi rata – rata diameter 24 pada tahun ke 5.
Biaya Bibit Rp. 900 x 1150 = Rp. 1.035.000
Biaya Pemeliharaan @ Rp. 10.000 x 1150 = Rp. 11.500.000
Jumlah Pengeluaran = Rp. 12.535.000
Pemasukan
Penjarangan Tahun ke 1= 25% x 1150 x @ Rp. 15.000 = Rp. 4.312.500
Penjarangan Tahun ke 2= 15% x 1150 x @ Rp. 40.000 = Rp. 6.900.000
Hasil tebang Tahun ke 5= 60% x 1150 x @ Rp. 260.000= Rp.179.400.000
Jumlah Pemasukan = Rp.190.612.500
( menarik , karena Pak MenHut MS Kaban di TRUBUS menyebutkan , hasil sengon
kira – kira Rp. 140 juta/Ha , mari kita lihat )
Pemasukan SL – Pengeluaran SL = Rp.190.612.500 – Rp.12.535.000
Hasil per Ha Sengon Lokal = Rp.178.077.500
Sengon Unggul Bersertifikat ( UB )& Sengon Morotai asumsi rata – rata diameter 29 di tahun ke
5.
Biaya Bibit Rp. 1600 x 1150 = Rp. 1.840.000
Biaya Pemeliharaan @ Rp. 10.000 x 1150 = Rp. 11.500.000
Jumlah Pengeluaran = Rp. 13.340.000
Pemasukan
Penjarangan Tahun ke 1= 10% x 1150 x @ Rp. 15.000 = Rp. 1.725.000
Penjarangan Tahun ke 2= 5% x 1150 x @ Rp. 40.000 = Rp. 862.500
Hasil tebang Tahun ke 5= 85% x 1150 x @ Rp.325.000 = Rp.317.687.500
Jumlah Pemasukan = Rp.320.275.000
Pemasukan UB – Pengeluaran UB = Rp.320.275.000 – Rp.13.340.000
Hasil per Ha Sengon UB = Rp.306.935.000
Nah , silakan Anda pilih , tanam sengon asalan , atau Unggul Bersertifikat.
Tapi , hasil masih bisa beragam , tergantung pemeliharaan , penyakit ,
gangguan karena daunnya banyak dipangkas / dicuri orang untuk pakan ternak ,
pengolahan lahan , dsb. Tapi , dengan asumsi semua faktor negatif bisa
diatasi , perbandingannya seperti di atas.
Untuk sengon var. Morotai , lihat di
www.sengonmorotai.blogspot.com
Komentar majalah – majalah investasi dan keuangan mengenai investasi di bidang perkebunan kayu tebangan :
The Economist
“Timber as a growing asset class” in the February 5, 2007 edition of the Economist says:
• “Average annual returns on timber . . . have outstripped those from leading global stock indices, property, oil and gold for the past decade.”
• “. . . modern investors are putting money into trees to reap benefits in the nearer term.”
• “A growing number of individuals, endowments and pension funds are including timber as a ‘hard asset’ in their portfolios.”
• “As ‘green’ awareness rises around the world, timber looks more attractive than ever.”
MoneyWeek
“Timber investors are barking up the right tree” in the July 7, 2006 issue of Moneyweek says:
• The UN Food and Agriculture Organisation predicts world consumption of industrial wood will rise 60% over the next 25 years”
• “trees have never heard of the Nasdaq bubble… and they don’t know what a War on Terror is”
• “over the past century the price of wood has averaged an annual increase of 6%”
Smart Money Magazine
“Timber!” in the November 2001 issue of Smart Money Magazine notes:
• “The track record of early investors – and a slew of recent academic research – indicate that timber is a near perfect asset.”
• “As trees get larger, their value increases.”
• ” . . . research indicates that real prices for timber have steadily risen for more than 100 years – better performance than any other commodity . . .”
Bloomberg Wealth Manager
“The Growth in Trees, Timber’s New Place in the Diversified Portfolio” in the December 2001 / January 2002 issue of the Bloomberg Wealth Manager. This article is more technical, but just as positive:
• “Individual investors have begun exploring timber more aggressively as a source of almost assured growth in tumultuous times.”
• “How can investors be so certain of returns? ‘One key factor that drives the investment is biological: trees grow.’”
• “. . . compared with oil and gold, for example, whose value can be affected by new finds, ‘we know where all the world’s forests are.’”
• “Indeed, as an asset class, timber – a renewable resource with constant product demand – stands out as a remarkably stable investment.”
• “Clients inclined toward socially responsible investing will find even more to like in timber . . . Forests take greenhouse gasses out of the atmosphere as they grow and replenish the earth’s supply of oxygen.”
• “Timber’s qualifications as a solid investment are too impressive to dismiss.”